Index of all articles, click here.
PELAKU Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) tak memandang status sosial dan jenjang pendidikan. Mau dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, atau orang berada dan terdidik, semuanya berpotensi menjadi pelaku KDRT. Bahkan, data Forum Penanganan Kasus Trafficking dan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKT KDRT) Samarinda menggambarkan, pelaku kekerasan sebagian besar dari kalangan terdidik.
"Jangan salah, orang-orang yang pendidikannya tinggi bahkan dominan melakukan KDRT. Mereka 'kan terdidik, sehingga pintar berkelit," kata Ketua PKT KDRT Aminah Amins, ditemui di Rumah Tahanan (Rutan) Sempaja, Samarinda, kemarin.
Dia menjelaskan, berdasarkan persentase pelaku kekerasan berdasarkan jenjang pendidikan, pelaku dari kalangan terdidik bahkan 70 persen -- lulusan SMA ke atas hingga S-3. Pelaku dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dan pendidikannya kurang bahkan kecil.
Dari kasus KDRT yang terjadi, ternyata juga tak melulu dilakukan suami. Ada juga kekerasan yang dilakukan istri, angkanya 30 persen.
"Ada juga istri yang melakukan pemukulan, menendang, atau menarik. Dari pengakuan kepada kita, mereka bilang begini, daripada dipukul duluan, "tutur Aminah.
Dari kasus yang ditangani PKT KDT, Aminah memberi gembaran tentang kalangan terdidik yang pernah melakukan kekerasan kemudian ditangani pihaknya. Di antaranya, ada kepala dinas dan pengacara. Aminah saat itu hanya memberi gambaran, karena nama dan dari institusi mana pelaku KDRT tentu mereka rahasiakan.
"Profesor ada juga yang melakukan KDRT. Ada kita tangani," tuturnya. Data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Kaltim, angka kasus KDRT yang masuk ke institusi itu dalam dua tahun (2006 dan 2008) ada 150 kasus.
Menurut Aminah, jika dibuat perbandingan data angka, sebenarnya kasus KDRT yang riil terjadi di tengah masyarakat lebih banyak. Hanya saja, warga menilai itu masuk ranah pribadi yang tak perlu diketahui publik, atau sampai dilaporkan kepada lembag-lembaga resmi yang intens dalam penangananan KDRT. Karena itu, pihaknya dalam hal ini menggandeng tiap RT di Samarinda untuk menggelar sosialisasi agar para korban KDRT mau melapor.
"Warga masih banyak menilai masalah KDRT ini masih tabu, tapi sekarang sebenarnya sudah banyak juga yang melapor," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan PPKB Kaltim Ardiningsih menyebutkan, kecenderungan kasus kekerasan terhadap perempuan dan KDRT naik. Karena, jelas dia, sekarang banyak korban sudah mulai berani bicara. Korban sudah banyak yang mau terbuka dengan lembaga-lembaga perlindungan perempuan di daerah ini.
Menurutnya, saat ini warga masih banyak beranggapan kekerasan dalam rumah tangga adalah kasus yang sangat pribadi. Padahal, terang dia, KDRT juga merupakan masalah sosial dan bisa kena pidana. (far)
Index of all articles, click
here